karya anak yonirazbi
Cipratan air hujan terpecah. Membunyikan simponi sendu. Kilatan petir menyambar ditemani gemuruh panjang. Andi yang berada di naungan daun pisang, memandang langit yang tak bertiang.
“Memang, malam ini sangat kelabu” geritik Andi dalam hati. “Aku harus bergegas ke rumah”.
Andi pun mengambil daun pisang tuk dijadikan payung, walaupun dia tahu bahwa daun pisang itu tetap membuatnya basah. Andi berlari kencang, sangat kencang tanpa menoleh ke belakang. Dia terus berlari, berlari, dan berlari sambil memikirkan akan minum kopi hangat, makan mie hangat, ditemani selimut hangat, dendangan suara Rhoma Irama yang hangat dari radio apabila dia telah sampai di rumah. Semua imajinasinya itu memompa semangatnya.
Tiba-tiba angin kencang menerpanya, menerbangkan daun pisang yang berada di tangannya entah kemana. Andi pun terdiam sesaat, kemudian nalurinya menyuruh Andi tuk berlari.Kini hujan telah jadi badai, kilatan petir mulai ramai menghiasi langit malam yang kelam.Andi berlari tak terarah, menerobos lautan lumpur yang dalam.Dia pun tak menyangka bisa berlari sekencang ini.
Satu detik kemudian sesuatu yang tak terpikirkan Andi terjadi.Dia tersantuk batu, kemudian terjerembab di genangan lumpur.Matanya perih tak bisa melihat karena kemasukan lumpur.
“Sial” ujar Andi berang.“Kenapa di saat begini aku malah jatuh”.
Andi mulai membersihkan matanya, lalu terbesit kilasan cahaya yang sangat terang di pelupuk mata Andi disusul suara gedegum yang menciut nyali dan memekakkan telinga.Andi dapat mengira apa yang terjadi walaupun matanya masih kabur. Pohon tua yang berada di sampingnya disambar petir dan seratus persen akan menimpanya. Dia ingin berlari tapi tubuhnya kaku.Andi akhirnya pasrah.Kemungkinan terburuk dia akan kehilangan nyawanya. Ia pun memejamkan mata.
“Aaaarghh………….” Andi menjerit .Tubuhnya tertimpa rerantingan dan dedaunan.Tapi, Andi sadar itu hanya rerantingan dan dedaunan bukan batang pohon. Ia bersyukur walaupun merasakan sakit di tangan kanannya karena terkilir, dan Andi pun mulai bangkit. Lumpur di mata Andi sudah hilang disapu air mata yang tersembunyi di antara tetesan air hujan yang mengalir di pipinya. Air mata itu terasa dingin dan hangat seperti kesenangan dan kesedihan. Andi bukanlah lelaki yang cengeng dan lebai, dia adalah lelaki yang tegar. Tetapi, siapa yang tidak menangis ketika selamat dari kematian, iya bukan ?
“Pasti menangis, bukan ?” bela Andi dalam hati. Andi sang lelaki tegar mulai berjalan terkoyong-koyong sambil memegang tangannya yang terkilir. Hujan mulai gerimis menyesuaikan dengan suasana hati Andi yang semakin menangis, menangis yang amat sangat.
Beberapa meter dari kejadian tadi sudah Andi lalui. Semakin jauh dari tempat tadi, hatinya semakin tegar. Andi pun mulai sibuk merangkai kata untuk mengatakan kepada ibunya apa yang telah terjadi. Andi terlalu sibuk dan tersadar ketika ada kilatan cahaya terbesit di retina matanya. Andi tahu betul itu bukanlah kilatan petir yang menyambar pohon, tapi dari cahaya lampu truk yang sering berlalu di daerah sini, dan Andi tepat berada di tengah jalan. Ia teringat kata-kata seseorang yang pernah dia dengar dari TV, bahwa tidak ada kesempatan kedua.
“Pasti ada kesempatan kedua” celetuk Andi pada saat mendengar pembicaraan seseorang tersebut. “Dasar orang sok berpendidikan dan sok tahu” Andi mencemoh. Memang,saat itu Andi tidak percaya apa yang dikatakan orang itu. Tapi kejadian ini lain ceritanya. Andi berpikir bahwa tidak ada lagi kesempatan keduanya untuk hidup, dan dia terpengaruh untuk mempercayai kata-kata orang yang pernah Ia cemoh itu. Dia mulai memikirkan apa yang telah ia lalui dan raih, mungkin itu membuatnya tidak merasakan sakit ketika kematian. Apakah kalian pernah berpikir apa yang akan kalian pikirkan ketika menjelang kematian ? seperti itulah Andi saat ini.
Klak sontruk masih mengiang-ngiang, sorotan cahaya lampu truk semakin dekat dan terang. Andi mencoba berlari kesamping walaupun ia tahu itu sia-sia. Kemudian suara gedegum keras terdengar dan……………
“biiip” semuanya menjadi kelam, dingin, dan beku.
“Budi, cepat tidur. Memangnya ini jam berapa sudah ?” bentak seorang wanita yang berumur kurang lebih 35 tahunan.
“Tapi ma ?” kata seorang bocah berumur 7 tahunan.
“Tidak ada tapi-tapian ? Cepat tidur sana”
“Iya, ma” kata Budi loyo. Ia pun berjalan kekamarnya dengan tergantung-gantung karena tidak bisa melihat episode terakhir dari sinetron yang dimainkan idolanya, yang memerankan tokoh Andi Sang Lelaki Tegar. 
(Redho Azz)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar